Merdeka Belajar dan Meningkatnya Layanan Digitalisasi Pendidikan

Siswa sedang memamerkan Tab untuk belajar  (Foto: Kominfo)
Siswa sedang memamerkan Tab untuk belajar (Foto: Kominfo)

Sejak diluncurkan pada 10 Desember 2019, Merdeka Belajar menjadi kebijakan andalan Mendikbud Nadiem Makarim. Seperti yang kita ketahui bersama, Merdeka Belajar yang diusung Mas Menteri banyak melahirkan terobosan baru dalam dunia pendidikan kita. Terobosan itu dilakukan karena Mas Menteri gelisah atas hasil penelitian PISA 2019 yang menunjukkan prestasi pendidikan di Indonesia yang berada di urutan 74 dari 79 negara. Maka pada itu ia meluncurkan program Merdeka Belajar, salah satunya dengan membuat gebrakan penilaian dalam kemampuan minimum dalam beberapa area, termasuk literasi, numerasi, serta survei karakter. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan siswa di berbagai bidang pendidikan.

Jika ditelisik lebih jauh, Merdeka Belajar yang digalakkan menteri milenial tersebut sejatinya juga menjawab dunia yang semakin hari semakin dekat dengan dunia digital. Selain itu, hal ini juga sangat mafhum karena ia merupakan founder Gojek, pioneer start up dalam bidang transformasi di Indonesia yang hingga saat ini masih eksis dan melayani jutaan penggguna dari berbagai lapisan masyarakat. Maka ketika Merdeka Belajara didominasi oleh nuansa digital sebetulnya sudah sampai pada istilah “the right man on the right place”, yaitu seorang Nadiem memiliki track record yang mumpuni dalam bidang tersebut

Digitalisasi dan Prioritas Nasional Dunia Pendidikan 

Dalam mendukung Prioritas Nasional Pendidikan , jika kita lihat Kemendikbudristek berusaha menjaga komitmen untuk pelaksanaan anggaran yang akuntabel dan berkualitas. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan Nilai Kinerja Anggaran tahun 2023 pada kategori sangat baik (nilai sementara = 95,59 persen).

Tidak hanya itu, menurut  Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 62/sipers/A6/III/2024   aspek kebermanfaatan dari kinerja Kemendikbudristek ditunjukkan juga dari Indeks Kepuasan Pemangku Kepentingan yang meningkat setiap tahunnya. Maka dari itu Kemendikbudristek memiliki komitmen dalam meningkatkan kinerja dan dukungan terhadap Prioritas Nasional, yang ditunjukkan dengan capaian pada berbagai Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS). Capaian prioritas dimaksud, yaitu digitalisasi pendidikan, sekolah dan guru penggerak, penerapan Kurikulum Merdeka, program literasi, akreditasi dan asesmen, kebahasaan, dan pemajuan kebudayaan.

Merujuk data Kemendikbud, terkait digitalisasi pendidikan, terdapat 79.259 sekolah formal telah menerima bantuan TIK tahun 2020-2023 (Belanja Kemendikbudristek dan DAK Fisik), 1.382.512 perangkat TIK telah diberikan untuk mendukung program digitalisasi sekolah (Dikdasmen), serta ada empat Platform Digital: Platform Merdeka Mengajar, Platform Kampus Merdeka, Platform Sumber Daya Sekolah, Platform Profil Rapor Pendidikan dan Manajemen Data serta Infrastruktur.

Sebagai contoh, untuk Platform Merdeka Mengajar (PMM), sejumlah 3.540.856 log in pada Platform Merdeka Mengajar selama tahun 2023, 225.400 sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum Merdeka telah menggunakan PMM dengan cukup baik, 2.219.099 PTK yang mengimplementasikan Kurikulum Merdeka telah mengakses PMM, serta 267.024 PTK telah mengunggah 774 ribu lebih Bukti Karya pada PMM. Di sisi lain, dalam pemanfataan Aplikasi ARKAS (ARKAS), 392.709 atau 91,28 persen satuan pendidikan aktif menggunakan ARKAS (Satuan Pendidikan), 100 persen dinas aktif menggunakan MARKAS (Dinas Pendidikan), serta 53,63 triliun potensi anggaran BOS TA 2023 tercatat pada ARKAS secara transparan.

Dan yang menarik, terkait dengan Ekosistem Aplikasi SIPLah, terdapat 18 mitra pasar daring pada ekosistem SIPLah, 273.647 Satuan Pendidikan telah menggunakan ekosistem SIPLah, 13,8 triliun telah dibelanjakan melalui ekosistem SIPLah, 52 ribu penyedia barang/jasa telah terhubung dengan 18 mitra e-commerce SIPLah, serta 5,7 juta produk tersedia pada SIPLah, baik produk umum maupun UMKM. Untuk Aplikasi TanyaBOS, tercatat 17.494 pengunjung aktif dan berpartisipasi di forum TanyaBOS, 3.600 pertanyaan dilayangkan di dalam platform TanyaBOS.

Sedangkan terkait pembiayaan pendidikan, terdapat 14.891 siswa menerima bantuan ADEM dari tahun 2020 hingga 2023, 18.109.119 siswa mendapat bantuan PIP pada tahun 2023, 916.827 mahasiswa mendapat bantuan KIP Kuliah pada tahun 2023, serta 7.614 mahasiswa mendapat bantuan ADIK pada tahun 2023.

Peningkatan Literasi Digital

Dari paparan data di atas dapat kita simpulkan bahwa digitaliasi merupakan salah satu prioritas dalam transformasi dunia pendidikan kita yang dibingkai dalam kebijakan Merdeka Belajar. Namun demikian yang menjadi tantangan adalah proses digitaliasi dan tantangan literasi di Indonesia yang beberapa tahun terakhir dianggap kurang menggembirakan. Akan tetapi kabar baiknya kemampuan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara umum kian membaik dalam tiga tahun terakhir. Hal ini terlihat dari laporan Status Literasi Digital di Indonesia 2023, hasil survei kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Katadata Insight Center (KIC). Adapun indeks literasi digital ini diukur melalui empat pilar indikator besar, yakni Digital SkillsDigital SafetyDigital Ethics, dan Digital Culture. Dari data ini kita bisa melihat, nampaknya program Merdeka Belajar perlahan tapi pasti dapat meningkatkan  layanan digitalisasi pendidikan kita.https://zorozuno.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*