Warga Palestina Puasa Di Tengah Kehancuran, Hamas Sebut Ramadan Bulan Jihad

Seorang warga mengibarkan bendera Palestina. Foto: Unsplash/Ahmed Abu Hameeda
Seorang warga mengibarkan bendera Palestina. Foto: Unsplash/Ahmed Abu Hameeda

RM.id  Rakyat Merdeka – Warga Palestina tahun ini harus berpuasa di tengah-tengah kehancuran dan bayang-bayang peperangan yang semakin sengit dengan Israel. 

Tidak ada dekorasi Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya di Gaza. Suasana suram serupa juga terjadi di kota-kota di Tepi Barat yang diduduki. 

Awal Ramadhan bergantung pada pengamatan bulan. Namun bagi warga Palestina, hal ini dimulai pada hari Senin (11/3/2024). Walaupun beberapa negara Arab dan negara muslim lainnya memulai puasa di hari Selasa (12/3/2024).

Jelang Ramadhan, juru bicara Brigade Al Qassam, sayap militer dari organisasi politik dan militer Islam Palestina, Hamas, Abu Ubaida menyampaikan pidatonya. Tepatnya pada Jumat, 8 Maret 2024.

Dia menyebut bulan Ramadhan tahun ini sebagai bulan jihad saat menyapa umat Islam di seluruh dunia. 

Hamas berjanji tidak akan berkompromi atas tuntutannya, agar tentara Israel menarik diri sepenuhnya dari Gaza, mengembalikan orang-orang yang mengungsi, dan merekonstruksi Gaza.

“Meskipun kami telah terlibat secara positif dengan para mediator, prioritas utama dan terpenting kami untuk mencapai kesepakatan pertukaran tawanan adalah komitmen penuh terhadap penghentian agresi terhadap rakyat kami,” ujarnya. 

Ia kemudian menyerukan kepada semua putra bangsa Palestina di Tepi Barat, al-Quds, dan wilayah Palestina yang diduduki pada tahun 1948 untuk memobilisasi dan berbaris menuju Masjidil Aqsa. 

Berdiri teguh di sana, dan tidak membiarkan penjajah Israel memaksakan kebijakannya di tempat suci tersebut.

“Kami menyerukan kepada massa bangsa kami di mana saja untuk mendeklarasikan mobilisasi untuk menghadapi (pendudukan Israel) di setiap bidang – baik dalam pertempuran dan konfrontasi maupun protes dan demonstrasi,” tegasnya.

Ribuan polisi dikerahkan di sekitar jalan-jalan sempit Kota Tua di Yerusalem selama Ramadhan. 

Serangan membabi buta Israel telah menewaskan 31.000 warga Palestina sejak 7 Oktober 2023, ketika ribuan pejuang Hamas menyerbu masuk ke Israel. 

Sementara itu, perang yang sudah berjalan selama 6 bulan ini menewaskan sekitar 1.200 orang lainnya dari pihak Israel, menurut penghitungan Israel.

Dalam pesan Ramadhan kepada umat Islam di dalam dan luar negeri, Presiden AS Joe Biden berjanji akan terus mendorong bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Washington juga berupaya mendorong gencatan senjata, dan stabilitas jangka panjang di wilayah tersebut.

“Saat umat Islam berkumpul di seluruh dunia dalam beberapa hari dan minggu mendatang untuk berbuka puasa, penderitaan rakyat Palestina akan menjadi perhatian utama banyak orang. Ini adalah hal yang selalu saya pikirkan,” kata Biden dalam pernyataannya, Minggu (10/11/2024), mengutip Chanel News Asia. 

Sementara itu, Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdulaziz mendesak komunitas internasional untuk menghentikan kejahatan, yang dia sebut ‘kejahatan barbar di Gaza’. 

Ini disampaikan Raja Arab Saudi dalam pidato jelang Ramadhan kepada warga dan penduduk Arab Saudi serta umat Islam di seluruh dunia pada Minggu (10/3/2024).

“Hati kami sangat sedih atas penderitaan saudara-saudara Palestina kami yang terus-menerus menghadapi agresi tanpa henti,” kata Raja Salman mengutip Asharq Alawsat.

Menurut pakar Timur Tengah, yang sebelumnya bertugas di Departemen Luar Negeri sebagai wakil asisten administrator di Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat, Mona Yacuobian mengatakan, Gaza mungkin merupakan wadah bagi tatanan baru di Timur Tengah.

Yacuobian mengatakan AS harus memanfaatkan momen Ramadhan untuk melakukan diplomasi yang berani dan kreatif. 

Sebab, momen ini menjadi peluang bagi perdamaian dan kemakmuran abadi. Walaupun pengaruh Washington semakin lemah, tapi masih tetap diperlukan.

“Awal Ramadhan hari ini dan harapan akan adanya jeda kemanusiaan yang lebih lama serta pembebasan sandera menandai persimpangan penting dalam perang ini,” ujarnya. 

Serangan tanggal 7 Oktober ini merupakan pengingat bahwa perjuangan untuk membentuk tatanan baru di Timur Tengah sangatlah sengit.

Perang Gaza akan membentuk tatanan baru di Timur Tengah. 

Yacuobian mengatakan, Amerika Serikat berada di garis depan menjadi negara yang dapat mewujudkan era perdamaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Namun, dalam menghadapi menurunnya pengaruh AS dan meningkatnya sentimen anti-Amerika, Washington harus mengambil tindakan untuk menghidupkan kembali diplomasinya. 

“Di antara banyaknya pemain, ia (AS) tetap menjadi aktor yang sangat diperlukan,” pungkasnya.https://zorozuno.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*